Select Menu

Slider

Diberdayakan oleh Blogger.

Live Stage

Band

Album Review

Live Stage

Download

Surabaya Footnote

Top Figure

Video Release

Meskipun masih tergolong pendatang baru di Ibukota, Bedchamber pun tidak ragu untuk langsung tancap gas. Band yang terkonsep dengan musik alternatif disertai sentuhan post punk ini baru saja merilis single pertamanya berjudul Youth awal September (5/9). Single tersebut merupakan bagian dari debut EP Bedchamber yang bertajuk Perennial. Mini album itu akan rilis akhir bulan ini melalui label Kolibri Rekords.

Band yang beranggotakan Ratta (vokal & gitar), Abi (gitar), Smita (bass) dan Ariel (drum) ini mencoba memainkan emosi pendengar lewat suara reverb yang coba ditonjolkan. Nada-nada manis ala The Cure pun tak luput dari single pertama band yang baru dibentuk tahun lalu ini.

Youth sendiri bercerita tentang ketidakpastian sesosok pemuda dalam menghadapi dekade baru dalam hidupnya. Premis ini kemudian diperkuat dengan musik yang mampu menghadirkan kontradiksi antara kebahagiaan dan melankoli secara bersamaan. “Lagu ini akan membuat kita jadi berada dalam limbo di antara masa muda dan kedewasaan, serta berbagai macam rasa yang hadir selama menjalani saat-saat akhir usia belasan.” tulis Bedchamber lewat rilis persnya.

EP Perennial nantinya akan berisikan lima lagu yang direkam selama kurun waktu Juli hingga Agustus 2014. Single Youth yang kali pertama rilis secara eksklusif lewat situs deathrockstar.club ini menempati track nomor dua dalam EP tersebut dan bisa dinikmati melalui channel Soundcloud mereka.

Foto: Dok. Bedchamber



Tyas Putri Perdana

Sarjana psikologi yang menghabiskan siang menjadi karyawan swasta. Menghabiskan malam dengan menikmati karya fiksi metropop. Penggila dua band: Efek Rumah Kaca dan White Shoes & The Couples Company
Baca tulisan Tyas lainnya
- - -
Meski untuk sementara ditinggal Cholil, Pandai Besi masih terus aktif dengan formasi barunya. Memasuki September, band yang mendaur ulang lagu-lagu milik Efek Rumah Kaca ini menyiapkan mini tur di Solo dan Yogyakarta. Dalam tur dua destinasi itu mereka juga akan melakukan pemutaran film dokumenter 'Siar Daur Baur' yang merupakan karya dari Gundala Pictures.

Studio Lokananta Solo akan menjadi venue pertama dari mini tur Pandai Besi yang dijadwalkan 20 September nanti. Keesokannya (21/9) tur berlanjut ke Yogyakarta yang berlokasikan di halaman gerai Ouval Research. Tidak hanya tampil dan melakukan pemutaran film, Pandai Besi juga menyiapkan vinyl 12 inch bagi para penonton yang hadir di dua gigs mereka.

Pemutaran film dokumenter 'Siar Daur Baru' baik di Solo maupun Yogyakarta dijadwalkan sebelum Pandai Besi naik panggung. Rencananya penayangan film tersebut akan dimulai pukul 15.00 WIB, sedangkan penampilan Natasha Abigail dkk start pukul 19.00 WIB.

Dalam lawatannya di dua kota itu Pandai Besi masih belum bisa tampil dengan Cholil dan Irma Hidayana karena keduanya masih berkutat dengan studinya di Amerika. Meski begitu mereka tetap tampil dengan personilnya yang kini dihuni Monica Hapsari (vokal), Nastasha Abigail (vokal), Akbar Bagus Sudibyo (drum), Popie Airil (bass), Asranur (kibor), Dika (terompet), Dito (gitar) dan David (gitar).

Foto: Dok. Pandai Besi
-
Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, 'Aku Lagi Tour' memang digagas untuk memperkenalkan tiga band belia dari Kota Malang; Frank!, Megatruh dan Young Savages. Bertempatkan di Nens Corner Surabaya, awal September kemarin (7/9) mereka tidak tanggung-tanggung menutup canggung dengan materinya yang masih asing namun atraktif.

Uniknya selain disuguhkan dengan performa tiga band belia Malang, gig singkat yang berdurasi kurang lebih empat jam itu turut mengundang dua unit pendatang baru di Surabaya; Just! dan Corpse Pose. Alhasil panggung dingin ala pub masih terasa dingin karena tidak banyak lagu familiar yang keluar malam itu.

Membuka gerombolan tur, Frank! lebih dulu merasakan stage dingin Nens Corner. Aksi vokalis mereka yang kribo terlihat lepas saat menggelintir lagu-lagunya, bahkan semakin luwes saat membawakan Helicopter milik Bloc Party. Tanpa jeda, Megatruh yang digawangi oleh Kidung dan teman-temannya ini memberikan tontonan yang tak kalah menyenangkan. Band yang namanya merujuk pada salah satu karya W.S Rendra ini seakan memberikan aksi teatrikal ala mereka ditambah dengan penggalan puisi sang vokalis yang mengisi atmosfer noise di penghujung penampilannya.

Just! menenangkan suasana kondusif gig yang merupakan destinasi kedua 'Aku Lagi Tour' tersebut sebelum akhirnya Young Savages memberikan ketenangan yang sesungguhnya. Untuk ukuran band belia, penampilan mereka tidak membosankan dan justru menyenangkan. Beruntung pada gig kemarin baik Frank!, Megatruh dan Young Savages belum memiliki rilisannya masing-masing sehingga memberi harapan bagi mereka untuk tampil lagi dengan materi yang lebih familiar meski harus berada di stage pub yang dingin.


Rona Cendera D.P

Melepas lajang di dunia tarik pena. Lulusan sastra yang tidak sastrawi. Frustasi jadi wartawan kriminal kini banting setir jadi wartawan klub sepakbola hijau.
Baca tulisan Rona lainnya
- - - -
Membawa langkah sebuah band selama bertahun-tahun tentu bukan perkara mudah. Jurang terjal hingga tanjakan yang menjulang tinggi sudah menjadi asupan rutin untuk tetap bertahan. Beruntung hingga kini The Flins Tone masih tetap ada di jalur yang sesuai dengan start awal mereka. Bukan konstan, melainkan konsisten, tahun 2014 ini mereka pun genap menjadi band yang telah berusia 1 dekade.

Jika berkaca pada industri luar, usia satu dekade tidaklah spesial, namun tidak begitu dengan Surabaya. Melihat banyaknya band berusia pendek, kiprah TFT selama 1 dekade yang tetap energik dan produktif setidaknya layak membuat mereka bersanding dengan band kawakan lain yang masih eksis seperti Devadata, Crucial Conflict atau Heavy Monster. Disamping itu, pengaruh mereka dalam perkembangan musik pop punk juga cukup sentral di Surabaya. Dua albumnya yang telah rilis tak ayal turut menjaga skena pop punk untuk terus bergairah.

Energik yang merupakan salah satu definisi dari pop punk memang tidak bisa dilepaskan dari band satu ini. Terhitung semenjak merilis album He's The Best Actor For This Episode dua tahun lalu, The Flins Tone terus melejit melahap gigs dan tur yang intens termasuk yang mereka jalani Mei kemarin, We Are Pop Punk Tour 2014. Seakan tanpa jeda, beberapa saat setelah itu The Flins Tone langsung masuk studio untuk merekam materi-materi barunya. Bahkan empat tahun silam ketika ditinggal mendiang drummernya, TFT juga tidak butuh waktu lama untuk loncat dari EP Flinsnopsis ke proses album He's The Best Actor For This Episode.

Meski begitu, di usianya yang menjelang mapan The Flins Tone pun harus kembali beranggotakan empat orang, sama seperti empat tahun silam. Gitaris mereka, Jerry memilih hengkang karena kesibukan akademisnya. "Jelas kami sangat menyayangkannya, tapi apapun keadaannya TFT harus tetap jalan karena masih banyak progress yang ingin dituju," ucap Kiky, vokalis The Flins Tone. Kini berempat bukanlah sebuah penghalang, karena band energik penggila New Found Glory ini langsung tancap gas untuk mengusung album ketiganya.

Jeda dua tahun setelah album kedua serta pendewasaan materi dirasa menjadi momen yang pas bagi TFT untuk mulai melanjutkan diskografinya. Tahun 2015 pun dipilih sebagai waktu yang pas untuk merilis album ketiga. "Selain ingin lebih santai dalam prosesnya (album,red), kami juga ingin menjaga euforia," lanjut Kiky yang ditemui seusai studio gig Global Disastour akhir Agustus lalu.


Mengusung Oldskul, Optimalkan Materi Meski Hanya Berempat

Secara kasat mata, musik pop punk memang tidak membutuhkan skill aduhai dengan komposisi epik. Begitu halnya dengan Kiky, Rudy, Ucup dan Bimo, mereka berupaya sebisa mungkin mengoptimalkan seluruh materi yang ada meski harus dikerjakan berempat. Permainan powerchord dengan jingkrak sana-sini tidak lagi 100% mereka tumpahkan. Sedikit menurunkan adrenaline dan berjudi dengan eksperimen barunya, The Flins Tone memilih untuk mengusung musik yang mereka anggap lebih oldskul dari kebanyakan influencenya selama ini.

"Mungkin sama seperti album-album sebelumnya, tapi bedanya di materi baru ini kami coba meleburkan masing-masing influence yang di luar pop punk menjadi satu. Kebetulan kami berempat banyak berkaca di era alternative rock 90 seperti Foo Fighters atau Smashing Pumpkins. Dari situ, kami leburkan lagi dengan konsep pop punk yang kami punya," lanjut Kiky.

Benang merah pun masih tetap terasa, di komposisi barunya nanti TFT masih menjaga kualitas liriknya yang bertemakan realita keseharian. Kiky menyebut single Hariku Harimu yang dilepas empat tahun lalu akan ditemui kembali dengan versi berbeda. "Ada tambahan part orkestra di beberapa lagu yang memang sedikit minor," imbuhnya. 

Terlalu dini untuk menebak keseluruhan materi baru TFT, dan tidak perlu khawatir karena album ketiga mereka sudah selesai direkam sejak Juni kemarin. Pastinya band yang tahun lalu menjadi line up Ronascent Compilation Vol.1 ini berupaya sebisa mungkin memberikan suguhan-suguhan fresh dalam albumnya meski kini tinggal berempat.

Foto: Dok. The Flins Tone
- - -