Select Menu

Slider

Diberdayakan oleh Blogger.

Live Stage

Band

Album Review

Live Stage

Download

Surabaya Footnote

Top Figure

Video Release

Event:
Amicitia Handmade Class Ethnic Edition

Category:
Workshop/Handmade Class

Date:
5 Oktober 2014

City:
Malang

Venue:
VLO Cafe, Jl. Bungur 17B Malang

Time:
14.00-18.00 WIB

Content:
Kelas Handmade;
1. Ojo De Dios & Dream Catcher Necklace
2. Nylon Bracelet Wall Decor & Dream Catcher Neckace
3. Wall Decor, Ojo De Dios & Nylon Bracelet

* Biaya Pendaftaran Rp 40 ribu (ticket, material, snack & tea time, merchandise, discount voucher)

Info:
@amicitiamlg
Scene celtic punk di Indonesia mulai unjuk gigi. Meski masih tergolong minoritas, sebuah kompilasi bertitel Wind From The Foreign Land sudah semestinya menjadi tolok ukur awal atas aktivitas mereka. Selain dihuni nama-nama yang sudah start lebih dulu seperti Dirty Glass, The Cloves And The Tobacco atau Charlie's Rum & The Chaplin, kompilasi Wind From The Foreign Land juga menempatkan beberapa wajah baru yang menyumbangkan single pertamanya di kompilasi ini.

Masih dengan mengelu-elukan hawa irish bernafaskan lirik patriotis, sosialis dan realistis, perbincangan ketiga hal tersebut pun tidak dapat terhindarkan. Seperti halnya Lagu Untuk Papah milik Pary Time yang jadi pembuka di kompilasi ini. Musik dan lirik yang disajikan menggambarkan sebuah traumatik atas hilangnya sosok 'papah'; sisi manusiawi seorang alcoholic yang masih tetap menghormati orang tuanya. Tidak jauh berbeda, My Friend My Enemy Too milik The Working Class Sympony juga bercerita serupa dengan paduan mandolin, tin wistle dan violin yang menyatu dan mengadu domba bahwa teman juga bisa jadi lawan begitu juga sebaliknya.

Dalam istilah celtic punk, tema lirik berbau kaum minoritas tentu selalu hadir, seperti pada komposisi Skarockoi yang berjudul Freedom atau Rain In Summer dengan track Perjuangan Semut. Lagu penuh keoptimisan yang mereka bawa turut menjaga ritme kompilasi ini yang berjalan setengah jam lebih. Tempo semakin curam, lagu-lagu militan dan penuh keberanian mulai keluar. Black Rawk Dog dengan gagahnya ber-shoutout “We Are East Side Troops!”, Dirty Glass yang bersorak-sorai dengan Anthem-nya hingga sikap patriotik Ciusquad terhadap kota asalnya, Klaten.

Charlie’s Rum and The Chaplin turut melanjutkannya dengan nyanyian lantang bertajuk Sama Rata Sama Rasa. Satu lagu berisikan pesan subliminal yang menggambarkan pemikiran palu dan arit. Mereka berpropaganda akan ketidakpuasannya pada sejarah kelam yang diciptakan oleh penguasa. Sebuah perlawanan dan pergerakan halus tapi berani dari para pemabuk yang berpikir cerdas. Hingga akhirnya tegukan terakhir alkohol dihabiskan oleh The Cloves And The Tobacco yang berlayar bebas di lautan lepas dalam track The Indian Ocean.

Meskipun durasinya terlalu panjang dan ada beberapa part yang kurang menggigit, setidaknya perlu diketahui bahwa Wind From The Foreign Land merupakan kompilasi celtic punk pertama di Indonesia. Album yang dirilis Juli kemarin ini sekaligus juga menandakan bahwa peta persaingan scene lokal semakin bervariasi. Seperti kebanyakan tema yang diangkat, minoritas selalu menyimpan elegi, namun dibalik elegi terdapat pula energi yang membahayakan. Ya, ekspansi mereka belum berhenti sampai di sini karena kompilasi selanjutnya akan kembali hadir dengan sajian merdunya minoritas.

Tracklist:
01 Lagu Untuk Papah (Party Time)
02 My Scene My Home (Panglima Kumbang)
03 Freedom (Skarockoi)
04 Bukan Hari Ini (Billy The Kid)
05 The East Side Troops (Black Rawk Dog)
06 Kotaku Kebanggaanku (Ciusquad)
07 Anthem (Dirty Glass)
08 Sama Rasa Sama Rata (Charlie's Rum & The Chaplin)
09 Perjuangan Semut (Rain In Summer)
10 Lucky & Whiskey (Jeralex)
11 Reach Your Dream (The Barley Hops)
12 My Friend My Enemy Too (The Working Class Symphony)
13 Come On Bois (Super Mario)
14 The Indian Ocean (The Cloves And The Tobacco) 





Farid Satya Maulana

Sarjana strata satu jurusan sastra indonesia di Universitas Negeri Surabaya. Penikmat punk yang juga mantan penyiar di stasiun radio campursari.
Baca tulisan Farid lainnya
- - - -
Meski tidak ada pengibaran bendera merah putih ataupun mengheningkan cipta di atrium Surabaya Town Square (Sutos), setidaknya nuansa heroik masih cukup terasa di sana. Atribut, anthem, film, diskusi hingga showcase berbau kemerdekaan telah menjadi sajian utama dalam gelaran ketujuh Sunday Market yang berlangsung pada 16-17 Agustus kemarin.

White Shoes & The Couples Company menjadi salah satu performer yang paling paham untuk menggiring penonton memaknai kemerdekaan. Aprilia Apsari cs menggelintir lagu-lagu terbaiknya di awal dan menutup setlistnya dengan lagu-lagu daerahnya yang eksotis. Tjangkurileun, Te O Rendang O, Tam Tam Buku hingga Lembe-Lembe menutup penampilan WSATCC yang sangat impresif. Meski tergolong sering menyambangi Surabaya, band yang terakhir merilis album Menyanyikan Lagu2 Daerah ini tidak pernah membosankan penampilannya.

Berbeda dengan White Shoes & The Couples Company, Sore yang tampil setelahnya juga menjadi ikon. Meskipun tidak bermaterikan lagu-lagu heroik tapi performa Ade Paloh dkk bagai menembakkan rudal ke bawah tanah; Penantian tujuh tahun itu telah berakhir, akhirnya Sore kembali lagi ke Surabaya. "Setelah 7 tahun, kami senang sekali bisa datang lagi ke sini (Surabaya,red), sambutannya luar biasa. Kami puas!," ungkap Reza Dwi Putranto, gitaris Sore ketika ditemui di backstage. Tidak hanya menggelintir single-single andalannya seperti No Friuts For Today, Etalase dan Setengah Lima, Sore juga memberi kabar baik bahwa mereka sedang disibukkan dengan proses album baru yang dinamai Les Skut Leboys. "Dalam waktu dekat single baru kami akan keluar," kali ini ujar Awan disela-sela penampilannya.

Selain Sore dan White Shoes & The Couples Company yang jadi penghuni stage Sunday Market Vol.7, muncul pula salah satu kolektif dreampop kawakan dari Kota Pahlawan, Call Me Nancy. Band yang menyatakan bubar di akhir tahun 2009 itu dihadirkan kembali dengan debut EP Pagi yang dirilis ulang oleh Sunday Market Records.Penampilan ketiga band tersebut sekaligus menutup event Sunday Market selama dua hari dengan berbagai konten acara variatif yang menggandeng anak muda di industri kreatif untuk memaknai kemerdekaan dengan kontribusinya masing-masing.

Foto: SATS COOP.


Tyas Putri Perdana

Sarjana psikologi yang menghabiskan siang menjadi karyawan swasta. Menghabiskan malam dengan menikmati karya fiksi metropop. Penggila dua band: Efek Rumah Kaca dan White Shoes & The Couples Company
Baca tulisan Tyas lainnya
- - - - -
Write The Future akan melakukan tur di tujuh kota mulai pertengahan Agustus ini. Tur tersebut sekaligus menjadi promosi untuk EP terbaru mereka Bury My Trace Someone Will Take My Place yang dirilis bulan Mei kemarin. Band yang dimotori oleh Dandy, Risang, Dimas, Prayoga dan Agung ini melakukan turnya selama kurang lebih sepekan yang dimulai dari Jakarta (21/8), Tangerang (23/8), Yogyakarta (25/8), Blitar (26/8), Sidoarjo (27/8), Surabaya (28/8) dan terakhir di Bali (29/8).

Di Surabaya sendiri, Write The Future akan tampil dengan konsep studio gig yang berlokasikan di Bhinneka Studio kamis pekan depan (28/8). Penampilan kelompok Melodic asal Malang ini juga turut dimeriahkan oleh band-band lokal seperti Timeless, Relics dan The Flins Tone.

Bury My Trace Someone Will Take My Place sendiri merupakan EP kedua yang ditelurkan oleh Write The Future setelah Reason yang diperkenalkan tahun 2012 lalu. Selain melepas mini album kedua, rencananya mini split album mereka bersama Story Starry Nite juga akan rilis dalam waktu dekat ini.


-