Select Menu

Slider

Diberdayakan oleh Blogger.

Live Stage

Band

Album Review

Live Stage

Download

Surabaya Footnote

Top Figure

Video Release

Hingga sekarang album Manimal masih menjadi tolok ukur kesuksesan Sajama Cut dalam memperdengarkan karya-karyanya. Namun kini lima tahun berselang mereka pun bersiap merobohkannya dengan album baru berjudul Hobgoblin, sebuah album yang melanjutkan kembali perjalanan band yang dikenal dengan progresi dan dinamika musiknya ini. Bekerjasama dengan Elevation Records, album Hobgoblin dijadwalkan rilis 10 Juni mendatang dengan format CD, kaset, digital dan juga vinyl.

Kompleksitas lirik, musikal, emosional, dan aransemen mendalam masih dijanjikan sebagai suguhan utama mereka. Leader juga multi-instrumentalist Sajama Cut, Marcel Thee menjelaskan bahwa album barunya masih tetap memiliki banyak varian genre, mulai dari rock, pop, punk, ambient, shoegaze, lo-fi dari berbagai era sehingga tidak bisa dirangkum dalam satu kalimat. "Elemen-elemennya begitu banyak, kami mengambil semuanya tanpa terdengar sebagai band fusion yang membosakan dan tidak organik,” jelasnya.

Bloodsport dipilih sebagai single pertama dari album ini. Lagu tersebut memberi kesan emosional pada pendengar yang seakan menentang realita keseharian urban yang tak berhenti melawan kestabilan jiwa. "Seringkali lagu-lagu di album ini berakhir jauh dari titik mulainya – dari chorus yang meluap ke bridge yang meloncat-loncat, ke breakdown yang kembali tenang," lanjutnya. Bloodsport sendiri dapat di streaming langsung melalui akun Soundcloud Sajama Cut. Berbeda dengan sebelumnya, dalam album yang berisikan 11 lagu ini Marcel mulai meninggalkan gitarnya dan beralih ke instrumen kibor dan synthetizer. 

“Setelah Manimal, gue tertarik untuk lompat keluar dari zona aman gitar. Kibor dan synthesizer – instrumen di mana gue minim keahlian sama sekali – menjadi sesuatu yang sangat menarik; instrumen dimana kenaifan dan 'kebodohan' gue malah akan memberi kejutan-kejutan baru. Dengan tidak mengenal sama sekali teori atau cara main yang 'benar' di instrumen-instrumen tersebut, kita mendapatkan perspektif dan pendekatan yang sama sekali baru. Benang merah emosi dan sense of melody yang khas Sajama Cut tentunya sangat ada – tapi kali ini kita memiliki fondasi lagu yang sedikit lebih kompleks dan secara emosi lebih dewasa lagi,” lanjutnya.

Sedangkan dari segi artistiknya, Sajama Cut menggandeng beberapa seniman, ilustrator, penulis puisi, kolase artist dan fotografer untuk membuat sebuah artbook berisikan interpretasi seluruh materi album Hobgoblin. “Sejak pertama kali Sajama Cut didirikan, lebih dari 10 tahun yang lalu, kami selalu mengaplikasikan pendekatan artistik terhadap musik yang kami buat," imbuh Marcel yang dalam hal tersebut mengajak beberapa nama seperti Eric Krueger, Dwiputri Pertiwi, Ebes Rasyid, Ivan Timona, Banu Satrio dan masih banyak lagi. Beberapa format album Hobgoblin juga akan memiliki cover yang berbeda-beda.

Bagi band yang dimotori Marcel Thee, Dion Panlima Reza, Hans Citra Patria, Randy Apriza Akbar sendiri, album Hobgoblin merupakan puncak dari penantian sekitar empat tahun mereka. Sajama Cut mulai mereka draft materi pertama sejak 2011 di berbagai studio, mulai dari studio professional hingga home recording. Di tahun 2013 pengerjaan album mulai serius ditambah dengan kontribusi musisi tamu lokal dan internasional sekelas Ken Jenie (Jirapah), Danif Pradana(Sound Creator), Will Long (Celer), dan Catriona Richards.

Tracklist:
1. History of Witches
2. Bloodsport
3. The German Abstract
4. Curtains for Euro
5. Beheadings
6. Dinner Companion
7. Fatamorgana
8. House of Pale Actresses
9. Recollecting Instances
10. Compassion
11. Rest Your Head on the Day





- - - -

Keberadaan senioritas selalu menjadi pemicu stagnasi sebuah skena, dan My Mother Is Hero (MMIH) mencoba menolak hal itu. Melalui lagu barunya yang berjudul Guided Democracy, MMIH berupaya mengungkapkan bahwa dalam satu skena semua itu sama, tidak ada senior maupun junior. Band yang tahun lalu merilis album Sundial ini membawakan lagu tersebut dalam program Live Session #5 di Jozz Studio awal Mei kemarin. Guided Democracy sekaligus menjadi bocoran untuk album kedua mereka yang direncanakan rampung tahun depan. "Album kedua diupayakan tahun 2016, sekarang materi sudah hampir selesai dan secepatnya akan kembali masuk studio," ujar vokalis dari MMIH, Yaseer.

- -
Stars and Rabbit akhirnya membayar rasa penasaran pendengarnya selama empat tahun, Constellation akan jadi album perdana mereka yang rilis Jumat mendatang (15/5). "Ketika proses rekaman menjadi bagian dari kehidupan para musisi, adalah sebuah kepuasan mutlak saat merilisnya pada momen yang tepat. Terlebih lagi, album ini membutuhkan proses pengerjaan kurang lebih 4 tahun lamanya," tulis Stars and Rabbit di rilis persnya.

Duo yang beranggotakan Elda dan Adi ini menyambut antusias atas terselesaikannya album tersebut, sebab proses pengerjaan Constellation sendiri memakan waktu yang cukup lama. Meski begitu, Stars and Rabbit menjanjikan sajian musik yang lebih berkarakter. Baik Elda maupun Adi memberikan eksplorasi tanpa batas, mereka mencoba mengembangkan keunikan karakter dan musikalitas dari karya sebelumnya. Sehingga album Constellation nantinya akan terdengar lebih percaya diri, kolaboratif, dan emosional.

Album Constellation sendiri akan dirilis melalui iTunes serta outlet digital sejenisnya. Setelah itu baru format CD pada bulan Juni dengan distribusi skala nasional hingga Filipina. Grup folk asal Yogyakarta ini juga telah menyiapkan tur beberapa kota di Asia yang dimulai per-23 Mei mendatang. The House dipilih menjadi single pertama mereka sebelum album benar-benar keluar. Lagu yang ditulis tahun 2012 itu menceritakan tentang masa sulit Elda yang kemudian diolah menjadi sebuah lirik dan musik eksploratif. 

Dalam prosesnya Stars and Rabbit dibantu oleh Didit Saad serta John Davis yang dikenal sebagai master engineering musisi besar seperti Led Zeppelin, Lana Del Rey, dan FKA Twigs. Selain itu ada juga Vicki Unggul, Gocay Aci, Morris Orah, dan Cory Rogers yang turut berkontribusi. "Perjalanan album ini menjadi semakin bermakna dan menghasilkan karya terjujur yang pernah kami ciptakan," ungkap mereka.

Constellation sekaligus menjadi rilisan kedua mereka setelah dua tahun lalu merilis mini album live yang berjudul Live at Deus (Bali). EP tersebut berisikan lima lagu yang termasuk di dalamnya Like It Here, Old Man Finger dan Man Upon the Hill yang direkam live kala tampil di Bali. 


- - -
Setelah menyelesaikan proses rekaman di L-One Studios Maret lalu, dua lagu terbaru Timeless akhirnya selesai. Black Golds dirilis lebih dulu melalui akun Soundcloud mereka Sabtu kemarin (9/5), sedangkan Bukan Berarti Kalah diperdengarkan esoknya. Rencananya dua lagu itu akan menjadi track tambahan di album repackage We Believe For What We Do Is Timeless yang akan rilis format CD dalam waktu dekat.

Seperti halnya Cold Summer atau Reminisce, kedua lagu tersebut masih mengedepankan soul punk yang mereka bawa dengan lirik penuh optimisme dan motivasi. "Kalah bukan berarti kecewa, tapi itu adalah perjalanan baru untuk naik level," ujar Bimantara menceritakan dibalik makna Bukan Berarti Kalah. Lagu itu merupakan hasil aransemen ulang dari demo awal Timeless dua tahun lalu, juga sekaligus track berlirik Bahasa Indonesia pertama mereka.

Lanjut Bima, sekarang bandnya sedang menyelesaikan proses repackage EP We Believe For What We Do Is Timeless sambil mengumpulkan materi-materi baru. Bimanatara (vokal), Fajri (gitar), Ferry (drum) dan Lazuardi (bass) merencanakan setelah rilis mereka akan mulai fokus untuk album keduanya. "Selain proses repackage, kami juga lagi fokus penggarapan LP," ungkapnya.

Meski masih tergolong baru, band yang menyumbangkan track Cold Summer di Ronascent Compilation Vol.2 ini tahun lalu sukses merampungkan debut EP We Believe For What We Do Is Timeless. EP berisikan empat lagu alternative yang rilis dalam dua format, yakni digital melalui akun Soundcloud dan kaset tape yang berkolaborasi dengan label independen Sidoarjo, Arabian Records.


- -