Select Menu

Slider

Diberdayakan oleh Blogger.

Live Stage

Band

Album Review

Live Stage

Download

Surabaya Footnote

Top Figure

Video Release

Berbeda dengan enam edisi sebelumnya, Indie Clothing Expo (ICE) yang biasanya digelar tiap bulan November kini maju menjadi bulan April. Entah karena ada event yang lebih megah di Grand City November nanti atau karena hal lain, namun 17-19 April mendatang sepertinya ICE masih tetap mempertahankan esensinya sebagai pameran clothing lokal kaya konten yang bakal menjaring puluhan ribu remaja tanggung di Grand City Surabaya. 

Kaya konten, mungkin ini menjadi space yang tidak ditemukan dalam pesta clothing Surabaya versi lainnya. Masih sama dengan sebelumnya, event rutin besutan Dyandra Promosindo cabang Surabaya bersama Kreatif Independent Clothing Komuniti (KICK) ini menggandeng puluhan komunitas lokal serta anak sekolahan untuk berpartisipasi di dalam kontennya. Seperti Surabaya Highschool Creative Project yang akan menggelar kompetisi Vidgram Competition dan High School Creative Project dengan hadiah puluhan juta. 

Dalam hal guest star, The 7th ICE kali ini memberi porsi lebih dari biasanya. Lima band dari luar kota akan jadi penghibur di sesi prime time Indie Clothing Expo. Burgerkill, si peraih award Metal as F*ck Golden Gods 2013; Sore yang akan pamer album barunya Los Skut Leboys; Pemilik hits Pejantan Tambun, Endank Soekamti; Jagoan HC asal Bandung, Taring; dan kolektif psychedelic rock Bangkutaman. Kelimanya akan berbagi panggung dengan 50 band lokal seperti Timeless, Give Me Mona, Blingsatan, Fraud, My Mother Is Hero, Mooikite, Berlin Night Club hingga Devadata.

Sedangkan festival clothing-nya masih akan menyuguhkan brand-brand besar dari tujuh kota termasuk Surabaya. Parade diskon bakal jadi tajuk utama yang melatarbelakangi muda-mudi Surabaya datang sambil menyambut musim panas di ICE in the Wonderland; event tahunan yang kali ini akan membawa pengunjung pada ambience taman musim panas dan segala aktivitas fun di area The 7th ICE.


-
Kabar buruk datang dari trio rusuh Blink 182. Frontman sekaligus mesin band Tom DeLonge resmi dipecat setelah melewati berbagai huru-hara yang terjadi bahkan sejak era Dogs Eating Dogs—EP mereka yang tak bagus-bagus amat. Dan, setelah bangkit dari ketepurukan serta mempersembahkan Neighboorhoods yang sejujurnya cukup segar; Blink 182 kembali tidak dapat menahan gejolak ego.

Ini adalah cerita tentang bagaimana persahabatan band pop punk dari sebuah garasi busuk yang akhirnya menjadi renggang dan saling berseteru setelah mencapai hall of fame dan kaya raya. Kegelisahan besar mulai terjadi, mulai dari para pemakai Macbeth; maniak Famous; gadis-gadis yang histeris dengan klip What’s My Age Again; dan semua orang yang merasa hidupnya tak sama lagi setelah mendengar kabar tersebut; tentu mereka akan bertanya, bagaimana kelanjutan Blink 182 setelah ini?

Ada banyak kesimpangsiuran yang terjadi. Tom DeLonge vs Mark Hoppus dan Travis Barker. Bila kita maniak portal berita musik, versi yang dilontarkan kedua kubu saling berlawanan, seringkali menjatuhkan. Kami pun tidak membela kubu manapun; kami hanya membela Blink 182. Dan kehadiran Matt Skiba, Matt Shadows, Matt Bellamy atau siapapun itu sebenarnya juga tak mengubah apapun. Blink 182 sebenarnya telah tiada tepat setelah Tom dipecat, dan jadi akhir yang menyedihkan. Hilang sudah sebuah band yang lagunya sempat menjadi list wajib kala jamming; teman belajar merokok di toilet sekolah; band yang mengajari bagaimana memakai celana pendek dan topi terbalik bisa sekeren itu; Blink 182 sudah sepantasnya menjadi kenangan.

Alasan pemecatan Tom DeLonge—seperti yang dijelaskan dari awal—sesungguhnya masih simpang siur. Sebenarnya tidak terlalu penting bagi kami untuk memperjelas, namun yang semua orang tahu bahwa berbagai proyek futuristik Tom macam Angels And Airwaves juga turut berpengaruh dalam perpecahan ini. Proyek bagus yang menunjukkan jatidiri Tom sebagai musisi yang luwes dan jenius; dan dengan ini ia harus mengorbankan Blink 182.

Kelanjutan Blink 182 yang paling baru mungkin dapat diamati lewat YouTube. Ada rasa penasaran yang membuat kita ingin mengetahui bagaimana Blink tanpa Tom. Bagaimana Matt Skiba akan mampu menghadirkan kembali semangat ugal-ugalan yang dirintis Mark dan kawan-kawan. Bagaimana Blink 182, sebagai juru bicara generasi pop punk mainstream akan bisa bertahan dari ketepurukannya.

Hanya ada dua pilihan: Blink 182 dengan Matt Skiba sudah seharusnya mencari nama baru. Seperti yang kita tahu, bahwa Blink 182 sudah bukan Blink 182 lagi sepeninggal Tom—karena sekali lagi, cukup sulit menggantikan posisi Tom yang sudah mengakar kuat sebagai signature band yang muncul di era awal 90an itu. Atau pilihan kedua ada di pundak Matt Skiba, sepesimis apapun para penggemar fanatik, Matt memang seharusnya mampu menyamai atau bahkan melebihi kapasitas Tom sebagai mesin dari band. Kita semua tahu reputasi Matt Skiba; punk rocker Alkaline Trio yang memang punya kharisma berbeda dengan Tom. Semua tentu mampu menilai secara subjektif. Dan kami mencoba melihat dari sudut pandang seobjektif mungkin.

Sebelum resmi pecah, Blink 182 sempat merilis album Neighborhood—sebuah album penuh yang sebenarnya muncul pasca hiatusnya mereka lima tahun silam. Albumnya terasa jauh lebih matang dari segi apapun: sound, musikalitas, lirik dan bahkan chemistry antara Mark, Tom dan Travis sudah begitu kuat. Simak Natives; ini adalah pop punk murni yang menunjukkan kapasitas Tom dan Mark sebagai salah satu rekan duet terhebat dalam sejarah punk. Vokal yang saling mengisi; Tom di awal, Mark di refrain, membuat kita tidak percaya; bagaimana chemistry yang sudah begitu kuat akhirnya pecah beberapa tahun  setelahnya. Atau dalam Even If She Falls, lagu penutup yang menunjukan letak keistimewaan Tom, baik dalam riff gitar maupun kekuatan vokal. Sulit berpikir Tom akan digantikan oleh Skiba yang masih tertatih saat membawakan Down beberapa pekan lalu.

Tapi perputaran itu pasti terjadi, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Jika memang Blink 182 tetap lanjut sebagai trio punk, maka butuh waktu untuk terbiasa mendengar lagu-lagu mereka tanpa suara tenor nan fals yang sudah melekat, sebab gaya vokal Matt Skiba jelas begitu rapih ketimbang Tom DeLonge. Namun jika Blink 182 harus bubar (lagi), mungkin album Greatest Hits bagian 2 akan muncul dalam beberapa waktu ke depan. Tentunya di luar hits-hits macam The Rock Show, I Miss You, Stay Together For The Kids, hingga All The Small Things, atau tracklist andalan lainnya. Kenapa? karena Blink sudah tak sanggup menjadi seperti apa yang selalu mereka teriakkan dalam First Date: “Forever and never, let’s make it’s last forever”.
- - -
Ternyata empat tahun hiatus telah memberi dampak positif bagi Silampukau. Duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening mengaku jika dimensi bermusik mereka makin meluas seiring dengan proses panjang yang dilalui sejak 2010. Hal tersebut bisa dirasakan melalui sepuluh komposisi yang kaya di album barunya Dosa, Kota, & Kenangan

Salah satu lagu yang dapat mewakilinya ialah Doa 1. Lagu yang bercerita tentang realita musisi indie ini cukup berwarna, selain liriknya yang khas Silampukau juga menambahkan beberapa instrumen seperti drum, piano, accordion, violin cello, trumpet, dan trombone yang bergantian mengisi empat menit durasi lagu tersebut. Sebelumnya, mereka juga telah melepas dua video live dari album barunya, yakni Malam Jatuh di Surabaya dan Lagu Rantau (Sambat Omah).

Bersamaan dengan ditetapkannya Doa 1 sebagai single pertama, Silampukau juga memberi kabar bahwa album Dosa, Kota, & Kenangan sudah rampung dan akan dilepas 19 April mendatang. "Album penuh pertama bagi setiap musisi adalah sebuah pertaruhan. Bagai sekeping koin, ia bisa bermakna ganda: menjadi batu tapak untuk melangkah ke panggung berikutnya atau justru menjadi batu nisan yang hanya berfungsi sebagai penambat ingatan. Seperti itu pula arti LP Dosa, Kota, & Kenangan bagi Silampukau," tulis mereka di rilis persnya.

Silampukau merekam album tersebut melalui proses home recording selama sebulan penuh. Mereka merekam kesepuluh materi di Surabaya dan Malang, sedangkan proses mastering dilakukan di Jakarta. Selama pembuatan, Kharis dan Eki melibatkan beberapa rekan musisi berbakat supaya album Dosa, Kota, dan Kenangan memiliki spektrum yang lebih kaya. 

Sebelum merilis LP pertama, tahun lalu Silampukau juga merilis ulang EP Sementara Ini melalui netlabel asal Surabaya SUB/SIDE. Semenjak itu pula duo kepodang ini mulai kembali aktif dari panggung ke panggung membawakan materi baru seperti Doa 1, Puan Kelana dan Malam Jatuh di Surabaya.

Tracklist
01. Balada Harian
02. Si Pelanggan
03. Puan Kelana
04. Bola Raya
05. Bianglala
06. Lagu Rantau (Sambat Omah)
07. Doa 1
08. Malam Jatuh di Surabaya
09. Sang Juragan
10. Aku Duduk Menanti









- -


The Wise sejenak menghilang saat para personil sibuk dengan rutinitasnya, hingga pergantian personil pada drummer jadi puncaknya bulan lalu. Meski begitu, 10 lagu sudah direkam untuk album pertamanya. Single Alam dan Manusia menjadi bukti bahwa album milik band penyandang status 'Favorite New Comers' ICEMA 2014 kemarin ini berangsur nyata. Melalui Live Session #3 The Wise yang sekarang dihuni Erwin (vokal & gitar), Angga (vokal & gitar), Raditya (bass) dan Rere (drum) tampil membawakan lagu barunya tersebut. "Lagu ini (Alam dan Manusia) menceritakan tentang manusia yang telah mengabaikan alamnya," terang Raditya yang menulis liriknya bersama Erwin. 70% progress albumnya sudah terselesaikan, The Wise pun berjanji akan merilisnya dalam waktu dekat.

- -