Select Menu

Slider

Diberdayakan oleh Blogger.

Live Stage

Band

Album Review

Live Stage

Download

Surabaya Footnote

Top Figure

Video Release

Penantian panjang Give Me Mona untuk melepas album penuh pertamanya pun pecah awal bulan ini (10/4). Dengan judul Self Titled album yang diproduksi oleh Arabian Records dan di distiburikan Demajors ini memperlihatkan betapa representatifnya Give Me Mona dalam mengolah materi-materinya, yang tentunya berbeda jauh dari debut EP Our Story Become Tragdey.

Walaupun terbit bukan di era pop punk, namun pada album ini mereka mencoba untuk bernostalgia sembari membangkitkan kembali masa-masa kejayaan genrenya itu. "Di album ini sengaja kami konsep dengan nuansa pop punk akhir 90an. Kenapa begitu? karena pada masa-masa itu pop punk sangat berjaya," ungkap Hara kepada Ronascent tengah tahun lalu.

Mengacu pada gaco pop punk pada masa itu seperti New Found Glory, Good Charlotte, Simple Plan atau Sum 41, Give Me Mona memadukan musiknya dengan lirik teenager yang erat kaitannya dengan konflik pribadi, sosial, persahabatan hingga pesta pora. Sebelas lagu yang mengehantak tersaji tanpa satupun yang turun tempo (baca:sendu), padahal dari band-band yang disebut di atas tadi selalu menyelipkan satu lagu putus asa yang mengalun lembut lalu menjadi hits dan kemudian menjadi langganan chart Billboard.

Dengan cover berlogokan otala, album ini dibuka oleh Ego & Ambisi. Single kedua yang dilepas September tahun lalu ini juga menjadi gambaran akan gejolak yang dialami GMM selama proses penyelesaian album yang dilalui setelah bongkar pasang personil, nuansa serupa juga muncul pada track Sebuah Deskripsi. Pada lagu Fabulous Man Give Me Mona menggandeng Siska Rahmawati untuk berduet dalam lagu yang mencoba memotivasi diri tersebut. Begitu juga dengan lagu Fase Baru akan kita dapatkan suguhan menarik ketika Oscar beradu vokal dengan Kiky (The Flins Tone)

Puas menjadi motivator, nuansa hura-hura pun tidak luput, Party Will Be Like This mengajak kita kembali ke usia 17 dan berpesta pora bersama teman-teman untuk merayakannya. Serta satu lagu tentang pertemanan di Friends Like You makin menguatkan nuansa masa muda yang minim problematika. Singgungan kritik sosial juga muncul melalui track Me Against Political yang menyuarakan tentang kekuatan politik=shit dan juga Television yang menjadi penutup sekaligus nomor paling wahid dalam album ini. Lagu yang mengkritik tentang tayangan-tayangan televisi ini meluncur bebas nan cepat hingga membawa pendengar menutup off air 37 menit Give Me Mona di playernya masing-masing.

Tracklist:
01. Ego & Ambisi
02. Party Will Be Like This
03. Sebuah Deskripsi
04. Me Against Political
05. Fabulous Man
06. Race Of Life
07. Fase Baru
08. Kau Beri
09. Friends Like You
10. Again Again
11. Television


Rona Cendera D.P

Melepas lajang di dunia tarik pena. Lulusan sastra yang tidak sastrawi. Frustasi jadi wartawan kriminal kini banting setir jadi wartawan klub sepakbola hijau.
Baca tulisan Rona lainnya
- -
Memasukki tengah tahun ini grup pop punk hardcore asal Bandung–Billfold–akan genap berusia empat tahun. Untuk itu sederet kejutan pun siap mereka buat, mulai dari rilis debut album, DVD hingga tur skala nasional. "Rencananya awal Mei kami akan rilis album, semua dikerjakan serba cepat karena target hanya sampai bulan April. Jadi selama dua bulan ini ngebut dan kami sangat menikmatinya," ungkap Billfold sebagaimana dilansir Trax.

Sejak awal Maret kemarin band yang beranggotakan Gania (vokal), Ferrin (bass), Angga (gitar), dan Pam (drum) ini sudah mulai masuk studio rekaman untuk merekam materi-materi albumnya. Band yang baru melepas satu EP berjudul Subsitute ini menamai debut albumnya Brave dan akan diisi oleh 12 lagu anyar minus single-single yang sudah dilepas sebelumnya.

Selain sedang disibukkan dengan proses penyelesaian album, Billfold juga tengah merencanakan perjalanan turnya untuk promo album mereka. Dari dua sesi tur yang direncanakan, sesi pertama sudah fix dan Billfold akan bertandang ke 12 kota, yakni Rantau Prapat, Medan, Solo, Yogyakarta, Salatiga, Kediri, Ponorogo, Kediri, Malang, Surabaya, Lombok dan Bali. Sedangkan sesi berikutnya masih dalam proses deal. Dengan tajuk 'Brave Tour 2014', Gania, Ferrin, Angga dan Pam akan memulai tur pada 9 Mei hingga 1 Juni mendatang.

Disamping itu, band yang melejit dengan single Save Them To Save Us ini berencana merilis albumnya di tiga kota sekaligus. Menariknya lagi, seluruh show mereka yang tergabung dalam Brave Tour 2014 akan diabadikan menjadi format DVD.
-
Setelah absen tahun lalu, Soundernaline yang kini memasukki tahun ke 12 akhirnya kembali akan mampir ke Surabaya. Masih tetap hadir di pertengahan tahun, hajatan rutin ini bisa dinikmati selama dua hari yang start di Kota Pahlawan 10 Mei mendatang di Lapangan Lenmarc Mall, Bukit Darmo Boulevard dan 7 Juni di Lapangan Bandara Polonia, Medan.

Dengan mengusung tema 'Voice Of Choice', Soundrenaline masih menampilkan nama-nama tenar skala nasional, yakni Slank, Gigi, Andra & The Backbone, J-Rocks, /Rif dan beberapa band lagi yang masih belum disebutkan. Sesuai dengan tema yang diangkat –Voice of Choice– kali ini Soundrenaline mempersilahkan audiens untuk menentukan sendiri album apa yang ingin dibawakan oleh lima line up tersebut. Untuk memilihnya audiens dipersilahkan untuk melakukan voting di website resmi GoAheadPeople.

"Di tahun ke 12 ini, Soundrenaline masih akan hadir dengan sederetan band dan musisi besar yang akan memanaskan panggung Soundrenaline 2014," tulis GoAheadPeople melalui rilis persnya. Gelaran Soundrenaline yang ke 12 ini merupakan kelima bagi Surabaya untuk menjadi tuan rumah setelah sebelumnya sukses menggelar acara tersebut di tahun 2003, 2005, 2007 dan 2012.  
Banda Neira, Gardika Gigih, dan Layur akan berkolaborasi menggabungkan warna musik yang mereka bawa dalam sebuah konser bertajuk Suara Awan, Sebuah Pertemuan. Konser ini akan  menggabungkan kesederhanaan folk akustik milik Banda Neira dengan alunan piano Gardika Gigih serta nuansa elektronik pada musik Layur. Ketiganya akan dibuat lebih megah dengan tambahan string chamber Alfian, Jeremia, dan Suta.

Konser kolaborasi ini dipicu oleh rasa saling kagum di antara Banda Neira, Gigih, dan Layur. Banda Neira mengagumi musik karya Gigih dan Layur, begitu juga sebaliknya. Awalnya, pertemuan ketiga musikus ini terjadi di dunia maya. Di Soundcloud lebih tepatnya, situs di mana ketiganya mengunggah karya. Saling komentar di dunia maya akhirnya berkembang menjadi pertemuan tatap muka. Setelah beberapa kali bertemu di Yogyakarta, mereka sepakat mengadakan konser kolaborasi.

"Rencananya ada 10 lagu yang akan dibawakan dalam Suara Awan. Dua lagu ciptaan Layur (Are You Awake?, Suara Awan), empat lagu ciptaan Gigih (Kereta Senja, Tenggelam, Hujan dan Pertemuan, I’ll Take You Home), dan empat lagu ciptaan Banda Neira (Hujan di Mimpi, Matahari Pagi, Derai-derai Cemara, Hal-hal yang Tak Kita Bicarakan)," terang Ananda Badudu, personel Banda Neira.

Lagu-lagu yang dimainkan dalam konser kolaborasi akan terdengar sangat berbeda dengan yang selama ini diperdengarkan. Ketiganya mengubah aransemen lagu menjadikannya sesuatu yang baru. Ketiganya juga terbuka untuk ide-ide baru yang terlontar ketika latihan bersama sehingga struktur serta nuansa lagu bisa sama sekali berbeda dengan yang aslinya.

Karya-karya Gigih yang biasanya berupa komposisi instrumental akan terdengar berbeda dengan tambahan vokal dan lirik. Lagu-lagu Banda Neira yang biasanya dibuat hanya dengan satu gitar kopong dan satu xylophone akan terdengar lebih mewah dengan tambahan suara-suara dari Layur. Musik elektronik Layur pun akan jadi berbeda dengan sentuhan akustik, piano, dan iringan cello dan biola. 



Ada yang unik dari rilisan ketiga Devadata, album Disrespect yang lepas Februari kemarin ini rilis delapan tahun setelah album kedua Emotional Breakdown, sedangkan debut album mereka Shutdown lepas delapan tahun silam sebelum itu. Entah skenario atau bukan, setidaknya band yang survive sejak 1998 ini masih tetap produktif sekalipun harus menunggu delapan tahun lamanya untuk merealisasikan albumnya.

Beralih label ke Gr8day Records yang sebelumnya sukses merilis album cadas macam Secret Weapon, Crossfire, Crashbone hingga Everything Forsaken, album ini disambut dengan tur 11 kota termasuk tiga destinasi di negara tetangga Malaysia yang kelar Maret kemarin. Jangan tanya kualitas, karena album ini jelas lebih kompeten dari Emotional Breakdown sekalipun tidak menelurkan lagu macam J.T.A.

Benang merah pun masih tertata rapi. Satu album yang ganas, masif dan militan kembali mereka suguhkan di usianya yang sudah dewasa: 16 tahun. Disrespect menjadi satu kondisi yang memposisikan tidak berpihaknya mereka pada pemerintahan. Terasa jelas bagaimana Devadata meramu album ini untuk menyikapi maraknya kasus suap, penindasan hingga perenggutan HAM yang terjadi di tanah air.

Simak single pertama mereka Supremacy, lagu yang dilepas lebih dulu ini benar-benar trustkill dengan mencerca para orang-orang teratas di parlemen. Hal serupa juga ada pada lagu pembuka Lawan yang seakan-akan memompa nyali untuk berontak dari bawah tanah. Harga Mati, Die For Nothing dan Devastate pun berkata demikian, lirik-lirik militan berpadu masif dengan distorsi kotor yang melaju ganas dan singkat. Ditengah galaknya lagu-lagu tersebut, Bodhas, Ronald, Dandu dan Roy pun menyelipkan sebuah lagu berbahasa Jerman yang berjudul Durheinender serta lagu persuasif tentang tattoo, Radjah.

Album yang dikerjakan sejak 2012 ini benar-benar membuktikan masih tajamnya taring Devadata dengan New School Hardcorenya. Sukses membakar panggung Bandung Berisik 2013, berbagi panggung di Malaysia dengan Carnivora (Thailand), Wynken Delirium (Malaysia) dan Fear The Setting Sun (Australia), dan akhir April nanti mereka akan satu line up dengan Bullet For My Valentine, Kreator serta Hatebreed di festival underground skala internasional Hammersonic. Sesuai dengan singlenya, periode ini sepertinya akan menjadi lambang supremasi bagi Devadata.

Tracklist:
01. Intro
02. Lawan
03. Harga Mati
04. Supremacy
05. Die For Nothing
06. Radjah
07. Durheinender
08. Devastate


Rona Cendera D.P

Melepas lajang di dunia tarik pena. Lulusan sastra yang tidak sastrawi. Frustasi jadi wartawan kriminal kini banting setir jadi wartawan klub sepakbola hijau.
Baca tulisan Rona lainnya
- -