Select Menu

Slider

Diberdayakan oleh Blogger.

Live Stage

Band

Album Review

Live Stage

Download

Surabaya Footnote

Top Figure

Video Release


Indonesian Cutting Edge Music Awards (ICEMA) 2014 telah mengumumkan hampir seluruh nominasinya. Dikatakan hampir karena khusus kategori Favorite New Comers masih membuka pendaftaran sehingga kemungkinan nominasi akan terus bertambah sampai batas voting 21 November mendatang. Dari seluruh nominasi yang terdata, hadir pula 10 band lokal Surabaya turut meramaikan persaingan ajang penghargaan musisi non mainstream tanah air tersebut. Sebagian diantaranya merupakan nama baru seperti Methiums, Timeless, The Wise, Hakash, Just! dan Reveur. Sedangkan sisanya Deavdata, Hi Mom!, Dopest Dope dan Headcrusher. Mereka terbagi dalam beberapa kategori berbeda yang akan bersaing bersama banyak musisi se-Indonesia untuk meraih voting dan penilaian tim dewan juri.

Sesuai dengan yang diterapkan, ICEMA 2014 membuka 20 kategori dengan rincian 14 kategori tiap genre, 4 kategori favorit dan 2 kategori khusus. Dopest Dope, Hi Mom!, Methiums, Devadata dan Reveur masuk dalam kategori tiap genre yang penilaiannya akan ditentukan voting tertutup oleh 35 tim juri perwakilan dari 11 kota serta penilaian langsung oleh tim inti dewan juri yang dipimpin jurnalis Rolling Stone Indonesia, Wendi Putranto.

Kategori Best Indie Rock Track menempatkan Dopest Dope dan Hi Mom! sebagai nominasi yang akan bersaing dengan 14 band lain macam Pandai Besi, Barefood, Mata Jiwa, Vague, Monkey To Millionaire, Shorthand Phonetics hingga Ramayana Soul. Devadata dan Reveur masuk dalam kategori Best Punk/Hardcore/Post-Hardcore Track dengan tujuh pesaingnya; Begundal Lowokwaru, Senja Dalam Prosa, The Kuda, LKTDOV, Durga, Inlander dan WeThePeople. Sedangkan proyek solo Methiums mewakili Surabaya dalam kategori Best Metal Track bersama Carnivored, Down For Life, SSSLOTHHH, Divine, Krack, Terapi Urine, Percuma, Parau dan Funeral Inception.

Kategori favorit yang di mana publik memiliki peran dalam voting juga menempatkan kelima band tersebut. Dopest Dope dengan single The Luck Song, Devadata dengan Supremacy, Hi Mom! dengan Midnight Float Sunrise For Sara dan Reveur dengan Lamentation bersaing ketat bersama total 118 band untuk mendapat award sebagai The Most Favorite Track ICEMA 2014. Methiums yang merupakan proyek tunggal Arya Akbara melalui singlenya Buster Rancher masuk 30 besar jajaran nominasi The Most Favorite Solo Artist.

Masih dari kategori favorit, Methiums juga terdaftar dalam kategori Favorite New Comers (FNC) bersama band Surabaya lainnya yakni The Wise, Timeless, Headcrusher, Hakash dan Just!. Keenam band tersebut kini berstatus 100 besar setelah menyisihkan ratusan band lainnya. FNC sendiri dihuni oleh musisi-musisi yang berpotensi menjadi bintang baru, sebut saja Atlesta, Rayhan Sudrajat, The Global Stretching, Still Virgin, The Clouds, GERRAM, Ansaphone, Dancing Donuts dan masih banyak lagi. Kategori yang edisi sebelumnya dimenangkan oleh Mooikite, AFFEN, Bvrtan, Fuentes dan Mesa Sinaga ini akan dipilih maksimal 10 terbaik oleh tim dewan juri.

Melihat rekam jejak scene Surabaya yang terus bergejolak selama dua tahun terakhir, tidak berlebihan jika tahun 2014 menjadi bukti bahwa barometer rock yang dulu pernah melekat mulai perlahan kembali. Meski tak lagi berbicara rock, setidaknya Surabaya yang lekat sebagai kota konsumtif berangsur produktif. Bisa dilihat dengan mayoritas hadirnya band-band belia yang masuk nominasi ICEMA 2014. Meski prestasi tak melulu berwujud piala, kami tetap berharap agar Surabaya kembali mengirimkan wakilnya sebagai peraih penghargaan di ajang tersebut.
- - - - - - - - - - -
Komite Indonesian Cutting Edge Music Awards (ICEMA) 2014 akhirnya mengumumkan seluruh nominasinya dini hari tadi (1/11) (Lihat Nominasi ICEMA 2014). Seluruh nominasi itu nantinya akan memperebutkan 18 kategori prestisius dalam skena musik non-mainstream di Indonesia. Pengumuman tersebut juga bersamaan dengan dimulainya proses pemungutan suara yang ditujukan untuk membantu penilaian dewan juri. 

Seluruh karya yang masuk dalam kurun waktu 24 bulan telah melalui proses seleksi ketat terhitung sejak Agustus 2012 hingga Juli kemarin. "Daftar nominasi tahun ini dihasilkan dari sebuah proses menyimak dengan cermat ratusan lagu yang masuk serta diwarnai adu argumentasi panjang selama beberapa pekan oleh anggota Tim Kategorisasi ICEMA 2014,” tutur Wendi Putranto yang berperan sebagai ketua dewan juri ICEMA 2014.

Dalam gelarannya yang ketiga, ICEMA membuka 20 kategori dengan rincian 14 kategori berdasarkan genre, 4 kategori favorit serta dua kategori khusus. Tim dewan juri yang terdiri dari Wendi Putranto (Rolling Stone Indonesia), David Tarigan (Pengamat Budaya Kontemporer), Sandra Asteria (Guvera Indonesia), Denny Sakrie (Pengamat Musik), Eric Wirjanata (Deathrockstar), Harlan Boer (Musisi) dan dan Indra Ameng (Ruang Rupa) memiliki hak mutlak dalam penilainnya. Kinerja mereka pun turut dibantu oleh sistem voting dengan dua tipe, yakni tertutup dan terbuka yang telah dimulai hari ini (1/11).

Sebanyak 35 nama penggiat musik yang tersebar di Jakarta, Bandung, Bogor, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Bali, Makasar, Medan dan Palembang akan membantu dewan juri dalam penilaian 14 kategori tiap genre. Sedangkan proses pemungutan suara terbuka dapat dilakukan secara online oleh publik melalui situs ICEMA. Berbeda dengan voting tertutup, voting terbuka diperuntukan terhadap 4 kategori favorit, yaitu The Most Favorite Track ICEMA 2014, The Most Favorite Group/Band/Duo, The Most Favorite Solo Artist dan Favorite New Comers. Dua kategori lain, Best Album dan Life Achievment akan diputuskan langsung oleh tim inti dewan juri.

Selama proses voting dan penilaian, ICEMA masih membuka pendaftaran untuk kategori Favorite New Comers hingga 21 November. Proses pemungutan suara untuk kategori yang dinilai cukup bergengsi itu digunakan dalam menentukan 100 besar yang nantinya akan dipilih maksimal 10 terbaik oleh dewan juri. Aransemen musik dan lirik, aspek komunikatif, karakter dan juga orisinalitas menjadi empat dasar penting bagi penilaian yang hasilnya akan diumumkan 18 Desember mendatang.

Bertemakan Celebrating 20 Years Of Independent Music Movement, ICEMA 2014 berupaya mengapresiasi seluruh musisi non mainstream untuk mendapat penghargaan yang bermartabat sehingga kedepannya dapat berdampak positif bagi para pemenang. “Semoga nominasi kali ini mencerminkan kemajuan pesat musicianship serta estetika komunitas pembuat musik berbakat di Tanah Air yang mewakili keunggulan di bidangnya masing-masing. Saatnya kini penggemar musik Indonesia ikut memilih siapa saja artis yang layak menjadi favorit untuk meraih penghargaan musik bermartabat," tutup Wendi.
-
Proses album ketiga Crucial Conflict semakin nyata. Sempat terkendala sejak hampir dua tahun, kolektif metal yang terakhir merilis album pada 2007 ini memastikan jika album barunya itu kini memasuki proses duplikasi. Melalui gitarisnya, Xave mengungkapkan bahwa seluruh lagu sudah selesai di mixing dan mastering sejak sebulan lalu dan kini segera di produksi bentuk fisiknya.

"Mulanya kami sempat pesimis untuk rilis tahun ini, tapi akan diusahakan setidaknya antara bulan November atau Desember bisa selesai," ungkapnya kepada Ronascent pertengahan Oktober lalu.

Selain memastikan proses album yang berangsur mencapai tahap akhir, Crucial Conflict juga mengumumkan Rot sebagai titel LP ketiganya. Sebelumnya, Ambisi yang juga menjadi single pertama mereka pilih sebagai titel albumnya, namun karena ada sedikit perubahan konsep maka Rot-lah yang dipastikan menjadi judul album ketiga Crucial Conflict. "Pemilihan Rot didasari atas kejamnya album ini baik dari segi musikal atau lirik. Rot yang bisa dimaknai sebagai 'kebusukan' kami rasa paling relevan dengan materi-materi di dalamnya," lanjut pria yang kerap disapa Dwi ini.

Tidak berbeda jauh dengan album Blood of Sacrifice, Xave, Kia dan Wicax masih mengusung tema jeritan sosial dengan olahan komposisi metal yang lebih modern. Band yang dibentuk tahun 1999 ini menyelipkan sebuah lagu tentang bencana tsunami yang menimpa Aceh 10 tahun silam dalam track 26 Desember. Selain itu, Crucial Conflict juga berkolaborasi dengan rapper kondang Surabaya Jefri Inc dalam lagu Prosa Jiwa.

"Album Rot secara musikal sangat berbeda dengan sebelumnya. Akan banyak porsi fill in, ketukan drum rapat dan cepat, kolaborasi serta part-part tak terduga di tiap lagu. Secara keseluruhan album ini cukup padat," kembali ujar Dwi. Sebelum merilis album, Crucial Conflict juga akan melempar single terbarunya dalam album kompilasi kedua milik Ronascent yang akan rilis akhir tahun 2014.



Rona Cendera D.P

Melepas lajang di dunia tarik pena. Lulusan sastra yang tidak sastrawi. Frustasi jadi wartawan kriminal kini banting setir jadi wartawan klub sepakbola hijau.
Baca tulisan Rona lainnya
- -
Apa arti store bagi sebuah brand? Jelas itu merupakan salah satu goal yang sekaligus menambah kredibilitas brand untuk meyakinkan pembelinya. Pasang surut munculnya brand baik di Surabaya atau kota-kota besar lain tak menyurutkan Looks Like Life dalam memulai level barunya. Aktif sejak 2010, brand yang digagas oleh beberapa pemuda Surabaya ini akhirnya melaunching store mereka yang terletak di kawasan Surabaya Timur, tepatnya di Rungkut Asri Tengah dan satu wilayah dengan Turtle Koffie.

Layaknya brand lain, Looks Like Life juga memiliki porsi misi untuk turut mengembangkan skena di mana mereka berada. Untuk itu pula empat band lokal, satu DJ dan dua komunitas grafiti mereka undang untuk memeriahkan acara launching yang diselenggarakan pada 17 Oktober kemarin. Venue minimalis, nuansa akhir pekan dan musik akustik. Ruas jalan MERR yang semakin malam makin sepi terasa makin sunyi terganti oleh gelak tawa dari berkumpulnya para pelaku industri kreatif yang bergantian tampil; meski tergolong daerah rawan kriminal, toh keceriaan malam itu sesaat menutup fakta tersebut.

Yang paling hangat ialah Humi Dumi. Band yang Juni lalu merilis album pertama berjudul I Am Ij Sin A itu tampil sebagai band terakhir dengan setlist lagu-lagu barunya, mulai dari Sleep, Bella On 79 Seconds dan Pack Of Friends. Penambahan anggota baru juga makin membuat band ini terasa ramai terlebih di stage minimalis, meski begitu komposisinya tetap layak diacungi jempol. Berbeda dengan Humi Dumi, rekan seangkatannya Taman Nada justru tampil tidak dengan formasi utuh. Band yang memapang kembang kol di mini albumnya ini hanya tampil bertiga malam itu dan sejenak kembali pada format akustik seperti awal mulanya.

Selain dua band tersebut tampil pula grup folk yang juga baru rilis album, yakni Senandung Sore serta grup 'serius' Alepak yang tidak kalah ramainya dengan Humi Dumi. Hingga ditutup oleh sesi DJ, acara pun selesai tidak terlarut malam. Bagi Looks Like Life sendiri, peresmian store mereka adalah bentuk realiasi dari keinginannya mewadahi seniman-seniman jalanan dalam berkarya, seperti halnya slogan yang mereka usung “Keep Support Local Artist”. Ya, semoga saja langkah awalnya itu bisa berjalan mulus dengan harapan bertambah lagi satu venue aktif dan bersahabat di Kota Pahlawan.

-