Select Menu

Slider

Diberdayakan oleh Blogger.

Live Stage

Band

Album Review

Live Stage

Download

Surabaya Footnote

Top Figure

Video Release

Berterimakasihlah kepada kompilasi Wind From The Foreign Land karena misinya untuk menyatukan 14 band bergenre celtic punk dari berbagai kota di Indonesia bisa dibilang berhasil. Kompilasi kolektif itu sepertinya telah memberikan energi positif bagi band-band di dalamnya, terutama celtic punk yang masih menjadi minoritas di Indonesia. Tiga band perwakilan Jawa Timur pun sepakat membuat gig ringan untuk bersenang-senang dengan mengusung tema 'Surabaya Celticoustic Night'.

Adalah Charli'e Rum & The Chaplin (CR&TC), kelompok irish folk punk Surabaya yang berhasil menggandeng Black Rawk Dog (Sidoarjo) dan Selcouth Smoke (Malang) untuk tampil akustik di Surabaya, tepatnya di Kedai Semampir awal Agustus nanti (9/8). Tiga band yang notabene masih tergolong baru itu akan tampil bersama memamerkan lagu-lagu barunya sambil memperkenalkan genrenya.

"Semoga ini bisa jadi langkah awal untuk meperkenalkan genre kami yang terbilang masih minoritas, terutama di Surabaya. Semoga Celticoustic juga bisa jadi cambuk bagi kami untuk meneruskan misi ini ke kota-kota terdekat lainnya," ujar Andri, vokalis dari CR&TC.

Minus Selcouth Smoke, Charlie's Rum & The Chaplin dan Black Rawk Dog masing-masing baru saja merilis lagu barunya di kompilasi Wind From The Foreign Land yang rilis pertengahan Juli kemarin. Black Rawk Dog menyumbang lagunya yang berjudul The East Side Troops, sedangkan Charlie's Rum & The Chaplin dengan single Sama Rata Sama Rasa. "Harapannya lewat gig ini setidaknya celtic punk di Surabaya dan sekitarnya bisa menyatu dan menimbulkan sinergi yang baik bagi scene lokal," lanjutnya.

Foto: Dok. Charlie's Rum & The Chaplin
- - -
Event:
Surabaya Celticoustic Night

Category:
Local Gigs

Date:
9 Agustus 2014

City:
Surabaya

Venue:
Kedai Semampir, Jl. Raya Semampir No. 37 Kav 6E Surabaya

Performer:
- Charlie's Rum & The Chaplin
- Black Rawk Dog (Sda)
- Selcouth Smoke (Mlg)

Time:
18.00-selesai

Ticket:
Free

Bertolak belakang dengan EP Substitute, full album Brave terdengar seperti penyempurnaannya. Jika sebelumnya Billfold hanya muncul sebagai hardcore pop punk generik, kini di tahun keempatnya mereka sudah berkembang lebih menyenangkan dengan eksperimen yang impresif. Bukan sekadar powerchord, ritme manis, breakdown atau paras cantik Gania Alianda, di album Brave Billfold memberikan sajian yang lebih fresh dan enak di dengar.

Kolaborasi sana-sini, penyempurnaan suara vokal dan tentunya lirik yang non-mainstream. Setidaknya sejenak Billfold bisa mereduksi generasi hardcore yang seragam. Sempat terheran-heran ketika part interlude Sebenarnya Fana diisi nuansa dubstep oleh DJ E-One (Eyefeelsix), atau suara violin dari Dafiq (Orkes Kerontjong De Oemar Bakrie) yang berkolaborasi membuka fase breakdown pada lagu Snake In The Grass. Memang awalnya aneh namun setidaknya eksperimen itu cukup membuat pendengar memutarnya kembali. 

Diluar itu, lagu-lagu khas Billfold masih cukup kentara seperti pada dua trek pembuka Time dan Brave; kental nuansa pop punk hardcore (baca: easycore). Juga pada lagu Kita Di Persimpangan dan Instruments yang mengingatkan sejenak ke album Mutiny milik Set Your Goals. Namun tidak begitu pada No One Save Us But Ourselves dan Memory Of Mine, yang di mana Billfold serasa menjadi band bervokal wanita kekinian macam We Are In The Crowd atau Tonight Alive yang meramu musiknya setengah hati. Overall, album berdurasi 35 menit ini ditutup trek akustik sederhana yang berbicara tentang kejamnya perperangan.

Sesuai dengan judul dan cover albumnya, Billfold memang berani. berani bereksperimen dan berani menantang perbedaan terlebih di kota asalnya banyak band-band serupa yang tak kalah bagus. Disamping itu, Gania Alianda, Angga Kusuma, Ferin Fazrin dan Pam Al Ayubi sepertinya juga ingin mengedukasi para hardcore kids bahwa hardcore tak melulu Hatebreed atau Madball, tapi juga Billfold!

Tracklist:
01 Time
02 Brave
03 No One Save Us But Ourselves!
04 Snake In The Grass
05 Sebenarnya Fana
06 Instruments
07 Kita Di Persimpangan
08 Turn Arround
09 A Little Boy With Stone In Hand
10 Memory Of Mine
11 Veni Vidi, Foody
12 Not Afraid



Rona Cendera D.P

Melepas lajang di dunia tarik pena. Lulusan sastra yang tidak sastrawi. Frustasi jadi wartawan kriminal kini banting setir jadi wartawan klub sepakbola hijau.
Baca tulisan Rona lainnya
- -
Tak ada yang mampu menghentikan Suicide Silence, dengan atau tanpa Mitch Lucker. Mereka akan terus menaikkan tensi deathcore, setidaknya itu yang terdengar di album keempatnya You Can’t Stop Me. Tewasnya Mitch (Lucker), vokalis kharismatik dalam insiden kecelakaan motor dua tahun lalu membuat sosok Hernan Hermida didaulat sebagai penggantinya. Hampir mirip memang, hanya saja di beberapa part karakter vokalnya cenderung lebih berat dan sesak. Tapi bila bicara kecocokan dengan musik SS, Hermida bisa dikatakan mampu mengimbangi skill buas personil lainnya. 

Track awal Inherit The Crown sesungguhnya menunjukkan tak ada perubahan signifikan dari band yang sukses lewat album The Black Crown ini selain hook yang lebih teratur. Petikan-petikan kejam yang dilempar gitaris Mark Heylmun dan Chris Garza serasa cukup menyenangkan. Dari balik drum, hentakan Alex Lopez juga masih cukup tangguh dan prima. Dengan klip lagu yang sudah wara-wiri di channel Youtube Nuclear Blast, Chease To Exist–single pertama album ini masih terdengar cukup 'nendang' di telinga. Mendiang Mitch Lucker dipastikan tak kecewa saat mendengarnya dari alam sana: benang merah musikalitas mereka masih terjaga dan terasa makin terasah. 

Di lagu lain seperti Sacred Words, refrain terdengar magis dengan tempo melambat dan melodi gitar menghanyutkan yang mengiringi growl berat Hermida. Mirip seperti Lee Malia yang melakukannya di kebanyakan lagu Bring Me The Horizon. Energi grindcore dibawa masuk dalam Control yang menampilkan vokalis legendaris Cannibal Corpse,  George "Corpsegrinder" Fisher. Suicide Silence bermain tanpa ampun disini demi menghormati sang sesepuh. Tempo tinggi berpadu dengan skill maksimal lebih dari mampu untuk menampar wajah kalian ke kanan dan kiri terus menerus. Secara mengejutkan juga, duet dua orang vokalis yang sama-sama tumbuh dengan growling dan screaming ini menghadirkan nuansa ketegangan sekaligus keasyikan tiada tara. Klimaks. Jelas, ini adalah track terbaik di album yang rilis 14 Juli kemarin ini. 

Penghormatan terhadap Mitch belum berhenti, dan mungkin takkan pernah berhenti. You Can’t Stop Me adalah lagu sekaligus judul album yang ditulis olehnya sebelum pergi untuk selamanya. Kencang, ngebut: mengingatkan kita pada era album The Cleansing yang raw. Lagu yang pernah masuk dalam EP Suicide Silence, Ending Is The Beginning juga turut meramaikan album ini. Sementara itu, Don’t Die, single kedua dari album ini menampilkan gaya vokal pitch squall dari Hermida, yang untuk sementara waktu dapat memacu kengerian di belakang leher. Secara keseluruhan, konklusi yang paling pas untuk setelah sesi dengar album ini adalah sesungguhnya bunuh diri diam-diam itu memang tak dapat dihentikan. Suicide Silence Can’t Be Stopped!

Tracklist:
01. M.A.L. 

02. Inherit The Crown

03. Cease To Exist

04. Sacred Words

05. Control (feat. George "Corpsegrinder" Fisher)

06. Warrior

07. You Can't Stop Me

08. Monster Within (feat. Greg Puciato)

09. We Have All Had Enough

10. Ending Is The Beginning

11. Don't Die

12. Ouroboros 


Tito Hilmawan Reditya

Mahasiswa sastra indonesia yang mengimani sepenuh hati Billie Joe Armstrong, Matt Bellamy, Kurt Cobain dan Thom Yorke. Menulis musik untuk suka-suka dan kesenangan semata. Bermimpi bisa bersulang root beer dengan Green Day.
Baca tulisan Tito lainnya
- -