Select Menu

Slider

Diberdayakan oleh Blogger.

Live Stage

Band

Album Review

Live Stage

Download

Surabaya Footnote

Top Figure

Video Release

Kolektif rock asal Surabaya, My Mother Is Hero akhirnya memastikan album barunya akan rilis 8 Agustus mendatang. Album yang diberi judul Sundial tersebut rilis mandiri dan didistribusikan secara nasional oleh Demajors. 

Melalui Bodik, dirinya menyebut bahwa album bandnya itu sebenarnya sudah selesai sejak sebulan lalu, namun mereka memilih untuk menunggu momen setelah lebaran untuk melepasnya. "Setelah lebaran jadi momen yang tepat untuk merilis album, karena semuanya masih fresh sama seperti Sundial yang masih fresh," ujar bassis My Mother Is Hero yang ditemui seusai tampil di Colors Pub & Resto Juni kemarin. 

Sundial yang dimaknai sebagai penentu arah matahari ini dijadikan tema album yang menjanjikan banyak perubahan di musiknya. Ada sembilan lagu baru yang seluruhnya memakai lirik bahasa Indonesia. Tema yang diangkat juga beragam mulai dari sisi sosial, realita hingga politik. Termasuk pada single andalan Putra Dari Timur yang mengisahkan tentang dilupakannya pahlawan Indonesia di tahun-tahun politik penuh konflik seperti sekarang.

Dalam album barunya, band yang melejitkan single Confused empat tahun lalu ini akan tampil dengan formasi terbarunya setelah awal tahun ditinggal oleh gitaris Rendy Apriady. Kini MMIH yang tinggal menyisakan dua personil asli dibantu oleh dua anggota baru, Yaseer sebagai vokalis merangkap gitar dan Ucha pada drum. "Meskipun dalam album ini kami ditinggal oleh beberapa personil yang sangat berpengaruh, disaat yang bersamaan kami juga telah menemukan bagian-bagian dan semangat yang baru," jelas Bonie.
-
Sempat menghilang dari peredaran scene lokal Surabaya, dipertengahan 2014 ini nama Vox pun perlahan muncul kembali. Awal bulan ini band yang beranggotakan Vega, Joseph, Donnie, dan Mayo memastikan jadi penampil di event baru besutan Ismaya Live, yakni We The Fest (WTF) 2014. Konser tersebut direncanakan berlangsung 24 Oktober mendatang di Parkir Timur Senayan, Jakarta.

Vox dipastikan tampil di We The Fest setelah Ismaya Live melalui situsnya merilis line up yang sudah fix untuk tampil. Beberapa nama lokal seperti Maliq & D'essentials, Sore, The Experience Brothers dan LALA Karmela juga akan tampil diplot bersama artis-artis internasional macam Ellie Goulding, Banks, Miami Horror, Goldroom, Havana Brown, Mayer Hawthorne, Jessie Andrews, RAC, dan Timeflies.

Tampilnya band jebolan LA Lights Indiefest 2006 ini sekaligus menandakan berakhirnya suasana hiatus Vox. Melalui kibordisnya, Donnie membenarkan bahwa bandya akan tampil di acara tersebut, sekaligus mengungkapkan jika sedang proses perampungan album baru. Bahkan Juni kemarin mereka sudah menampilkan beberapa lagu barunya dalam salah satu gig di Rolling Stone Cafe. "Benar, sekarang kami masih memproses mixing dan mastering album baru. Event WTF sekalian kami jadikan pemanasan terutama jelang album," ujarnya.

We The Fest sendiri merupakan event baru garapan Ismaya yang sebelumnya rutin menyelenggarakan Djakarta Warehouse Project dan Love Garage tiap tahunnya. Acara tersebut berkonsep summer festival dengan memadukan unsur-unsur art, musik, fashion dan kuliner. Menarget pangsa remaja hingga dewasa WTF akan menampilkan puluhan band lokal dan internasional dengan genre yang variatif, mulai dari indie pop, folk, R&B hingga musik dugem.



Rona Cendera D.P

Melepas lajang di dunia tarik pena. Lulusan sastra yang tidak sastrawi. Frustasi jadi wartawan kriminal kini banting setir jadi wartawan klub sepakbola hijau.
Baca tulisan Rona lainnya
- - -
Ramadhan Attack, salah satu gig rutin underground yang diselenggarakan tiap pertengahan Bulan Ramadhan akan kembali digelar akhir pekan ini (19/7). Bertempatkan di Lapangan FISIP UNAIR Kampus B Surabaya, Ramadhan Attack akan menampilkan 21 band.

Acara ini didominasi oleh band metal dan hardcore Surabaya, namun di luar itu terdapat pula grup folk Taman Nada, trio grunge Zorv serta kolektif hip-hop veteran X-Calibour. Selain itu ada pula Screaming Factor dari Malang yang akan beradu ganas dengan band-band lokal lain seperti Devadata, Crucial Conflict, GAS 178, Fraud, WolfxFeet, Headcrusher, Full Frontal dan masih banyak lagi.

Selain menyajikan performa band, tiap tahunnya Ramadhan Attack juga menggalang dana sosial melalui tiket masuknya seharga Rp 15 ribu. Disamping itu, panitia juga menerima sumbangan lain berupa pakaian bekas yang nantinya akan diberikan kepada pihak yang membutuhkan.


-
Andaikata sesi rekaman Cigarettes And Valentines tak hilang, mungkin American Idiot takkan pernah ada. 10 tahun yang lalu, tepatnya di pertengahan 2004, Green Day merekam semuanya dengan serba cepat. Sadar bahwa sesi rekaman sebelumnya hilang, mereka menulis ulang part-part lagu baru yang kebanyakan terdiri dari bagian-bagian pendek untuk kemudian menyatukannya kembali menjadi satu album punk rock paling signifikan.

Kejutan demi kejutan hadir pasca album itu dirilis. Tahun 2005, American Idiot masuk nominasi dan menjadi album punk pertama yang memenangkan Grammy Award; menerima 'Kids Choice Award' dan banyak penghargaan lain sampai beberapa kali masuk dalam jajaran album terbaik versi media musik ternama. Tak perlu diragukan lagi, memang album tersebut diyakini jadi salah satu album pemberontak bersejarah baik bagi punk rock juga Green Day. Namun disaat yang bersamaan, hujatan pun datang bertubi-tubi pada mereka; Media besar seperti Rolling Stone, The Guardian, Slant Magazine hingga Robert Christgau dari The Village Voice mengkritik habis-habisan yang menilai album tersebut sangat biasa dan berantakan dengan konten sosial politiknya yang kaku, ditambah lagi style gothic ala Billie Joe cs yang kini masih dipertahankannya.

American Idiot adalah sebuah album konseptual dengan lagu yang seluruhnya saling terkait. Menceritakan seorang junkies pinggiran kota dalam perjalanannya menemukan jati diri. Album ini meramu 13 lagu di mana hampir seluruhnya kental menggambarkan keadaan sosiopolitik. Seperti sebuah opera post punk yang siap ledakkan granat di muka kalian, single pertama American Idiot;  adalah jari tengah pada Bush dan busuknya korporasi media. “Don’t wanna be American Idiot!” –tidak banyak yang bisa mencipta lirik sevokal ini; seperti God Save The Queen-nya Sex Pistols versi millennium. Jesus Of Suburbia; sebuah medley punk gila-gilaan berdurasi 8 menit lebih hingga Boulevard Of Broken Dreams, track favorit anak-anak penggemar Nickelodeon, tentang kesepian dan menyusuri jalan seorang diri. Jangan kaget jika lagu ini meledak sedemikian luas karena ini adalah lagu pop. Homecoming; 9 menit 20 detik, eksplorasi mati-matian. Seluruh personil all-out sampai Tre Cool pun juga ikut bernyanyi. Sampai pada hits dengan emosi paling intens, Wake Me Up When September Ends: bahwa punk juga bisa sesedih ini.

10 tahun yang lalu, sulit dipercaya band pinggiran kota yang memulai segalanya dengan bermain di gigs-gigs kumuh sambil sesekali berpesta ganja dan menenggak alkohol dapat masuk dalam nominasi Grammy. Sulit juga dipercaya bahwa band yang awalnya merekam demo indie hanya dengan tiga chord dan nyaris tanpa skill yang muluk-muluk akhirnya dapat mengangkat piala Grammy. Green Day dan American Idiot adalah sebuah bukti nyata bahwa passion, kerja keras dan konsistensi pada akhirnya mampu membawa siapapun pada keberhasilan. Meskipun banyak yang menghujat dan tidak sedikit fansnya hilang, namun fakta tetap berkata lain; American Idiot berhasil terjual hingga 15 juta kopi dan membuat Reprise Records makin menganakemaskan mereka.

Satu Kompilasi Konyol Untuk 1 Dekade American Idiot

Kompilasi bertajuk Kerrang! Does Green Day’s American Idiot menjadi peramai euforia 1 dekade album yang rilis 20 September 10 tahun lalu. Sayangnya, album ini seperti layak menemani album terkonyol Justin Bieber. Album tribute yang biasanya menawarkan kesegaran justru malah terdengar asal-asalan.

Terdengar lucu saat track American Idiot di cover oleh 5 Seconds Of Summer dengan gaya vokal remaja tanggung yang seperti baru belajar mengacungkan jari tengah, George W. Bush dipastikan akan terpingkal mendengar aksi band ini. Jesus Of Suburbia bukan lagi menjadi lagu terbaik Billie Joe dkk, tapi tak lebih dari sekadar materi percobaan band bernama Rise To Remain yang baru selesai bermain ayunan. “I don’t care if you don’t care,” lirik anthemic di lagu itu secara mengejutkan berubah menjadi super-aneh ketika dibawakan dengan growl setengah hati.

Irama modern rock gencar dimainkan The Blackout pada track Holiday yang dengan seenak udelnya menggubah intro legendaris dengan harapan memberi warna baru justru membuat permainan mereka terdengar amat dipaksakan. Boulevard Of Broken Dream adalah Boulevard Of Broken Song ketika dibawakan dengan tempo tak teratur dan acak-acakan oleh Neck Deep. You Me At Six yang diharap mampu memberi nuansa segar kerena mempunyai nama yang lebih familiar dibanding lainnya ternyata juga lebih mirip peserta American Idol yang tereliminasi saat membawakan Are We The Waiting. Begitu pula Bowling For Soup dalam St. Jimmy yang memainkannya seperti backsound program komedi. Give Me Novacaine yang dipilih Escape The Fate juga tak melampaui ekspektasi sedikit pun. Kekonyolan lain turut dimainkan Falling In Reverse yang meneriakkan hits pemberontakan She’s A Rebel dengan gaya vokal layaknya bocah yang sedang masturbasi tapi tanpa ejakulasi.

Tampilan tak penting makin terasa saat Frank Iero, mantan gitaris My Chemical Romance membawakan Extraordinary Girl dengan paduan musik disko samar serta remix yang kurang berbakat: memperburuk gendang telinga yang sudah enggan meneruskan ke track-track selanjutnya. Sempat tertarik untuk mendengar Welcome To Paradise dan Basket Case dari album Dookie sebagai bonus track, tapi nyatanya percuma. Secara keseluruhan apresiasi yang coba diberikan oleh Kerrang! rasanya seperti memperburuk suasana 1 dekade yang harusnya lebih manis tanpa kompilasi ini. Hiburan konyol, punker medioker era pop You-Tube yang mencoba meniru band punk rock terbesar di dunia, Life’s Not Too Loud, Kerrang!


Tito Hilmawan Reditya

Mahasiswa sastra indonesia yang mengimani sepenuh hati Billie Joe Armstrong, Matt Bellamy, Kurt Cobain dan Thom Yorke. Menulis musik untuk suka-suka dan kesenangan semata. Bermimpi bisa bersulang root beer dengan Green Day.
Baca tulisan Tito lainnya
- - -