Select Menu

Slider

Diberdayakan oleh Blogger.

Live Stage

Band

Album Review

Live Stage

Download

Surabaya Footnote

Top Figure

Video Release

Sunday Market Vol.9: Once Upon A Time In China
Surabaya Town Square (Sutos)
21-22 Februari 2015
Oleh: Dedi Widianto






































Industri perdagangan di Surabaya belum bisa lepas dari etnis Tionghoa. Unsur budayanya masih terasa kuat, bahkan menjadi sisi menarik kala edisi kesembilan Sunday Market yang bergulir kembali di tengah perayaan tahun baru imlek. Setelah Februari tahun lalu Sunday Market mengajak beromantika bersama keluarga dan kekasih di Love Affairs, akhir pekan kemarin (21-22 Feb) para pengunjung pun diajak beromantika dengan segala unsur kebudayaan ala etnis Tionghoa. 

"Sampai dengan saat ini kita masih bisa melihat dan menikmati sisa-sisa peninggalan kebudayaan Tionghoa di Surabaya, kawasan Pecinan selalu menjadi bagian kota yang menarik," sebagaimana tertulis dalam opening note Sunday Paper yang akhirnya muncul lagi setelah edisi sebelumnya absen. Suasana Pecinan begitu kental, lampion jadi penghias atrium Surabaya Town Square (Sutos) di setiap sudut. Ditambah lagi settingan toko kelontong jadul, kuliner khas Pecinan seperti Tahuwa dan Kacang Kowa hingga panitia yang berbusana khas Cina makin menghidupkan suasana akhir pekan dengan perayaan Gong Xi Fat Cai

Wayang Potehi, atau pertunjukan teater boneka khas TIongkok yang sudah berusia 3.000 tahun secara khusus didatangkan untuk memeriahkan sekaligus mempopulerkan kembali budaya tersebut. Wayang Potehi berisikan lakon-lakon novel klasik dari daratan Tiongkok yang memberikan ajaran-ajaran baik. Tampil pula pagelaran akbar Lion Dance dan Barongsay dari perguruan Lima Naga; salah satu perguruan tertua di Surabaya.

Di samping suasana Pecinan, hampir sebagian penonton juga terbuai oleh buaian dari biduan pendatang baru bervokal alto, Danilla. “Ini pertama kalinya saya ke Surabaya,” ujarnya yang tampil anggun minggu malam (22/2). Penyanyi asal Jakarta ini punya daya tarik yang luar biasa, tampil pertama kali di Surabaya tak berarti sepi penonton, bahkan terlampau ramai. Beberapa single dari album Telisik dimainkan dengan sangat cantik, lembut dan lemah gemulai. Selain lagu andalan Ada di sana, Terdistraksi, dan Buaian, ia juga membawakan Buddy Holy milik Weezer. “Energi Surabaya luar biasa” seru wanita yang baru berulang tahun 12 Februari kemarin itu setelah tampil.

Usai Danilla, duo elektronik asal bandung Bottlesmoker melanjutkan penampilan di atas stage Sunday Market. Mereka membawakan setlist langganannya yang dimulai dari Frozen Scratch Cerulean, Boredom And Freedom, Rooftop sampai La Voyage. Hingga akhirnya kolektif electropop asal Bandung Homogenic yang jadi penutup gelaran Sunday Market Vol.9: Once Upon A Time In China yang cukup meriah meski lagi-lagi rilisan Sunday Market Records kembali nihil.

Foto oleh: Dedi Widianto
- - - - -
Salah satu penyabet kategori 'Favorite New Comers' Indonesia Cutting Edge Music Awards (ICEMA) yang diadakan akhir 2014 kemarin mulai memanas. Piratez, band rock alternative yang dibentuk sejak 2008 baru saja menyelesaikan single terbarunya yang siap dilepas dalam waktu dekat, tepatnya pada 21 Februari 2015 mendatang. 

Melalui rilis persnya, Piratez yang akan melepas single bertajuk We Are menjanjikan materi yang berbeda dari lagu-lagu sebelumnya. "Sejak awal kami (Piratez,red) berkomitmen untuk selalu mencoba menyuguhkan hal berbeda disetiap karya, We Are adalah salah satu propaganda dari transisi musik Piratez menuju album ketiga nanti yang rencananya juga akan digarap tahun ini," tulisnya. Menyikapi album ketiganya, Piratez menjanjikan album yang lebih konseptual dari sebelumnya.

Single terbaru Piratez akan didistribusikan melalui puluhan retail online international seperti iTunes, Amazon, Spotify dan sejenisnya. Lagu tersebut juga akan diberikan free kepada publik dengan batasan jumlah download melalui akun Soundcloud milik Piratez.


- -
Folk itu simpel. Duduk manis, menyilangkan kaki, menggamit gitar, jrang-jreng-jrang-jreng, jadilah lagu. Semakin sederhana justru semakin terasa. Hanya saja selalu ada ironi: saat folk sudah jadi pop, susah mencari folk dengan kemasan yang unik (sampai detik ini yang paling kentara hanyalah Semakbelukar dan Rabu). Tik! Tok! dengan rilisan Page 160-nya memang muncul bukan sebagai hal baru: mereka adalah bagian dari pop itu. Di usianya yang masih kemarin sore setidaknya Tik! Tok! telah menunjukan materi, musik dan kemasannya yang menyenangkan.

Ambilah satu lagu, Sometimes. Vokal sakarin si cewek hangat sekali meski komposisinya cenderung generik, seperti halnya dengan nomor Screen yang menjadi single di album ini. Satu hal yang menarik mungkin adalah kesan elegan dan juga cair—yang sepertinya menjadi signature Tik! Tok!, kesan anggun dan elegan juga muncul terlebih saat menelaah lirik yang coba mereka sampaikan. Meski begitu, apalah lirik tanpa perenungan? Seakan tidak mencapai klimaks, pesan belum bisa tersampaikan. Saat menilai album secara keseluruhan, hanya kesan nyaman yang di dapat. Sepertinya si pemetik gitar berhasil dalam meramu komposisinya.

Di luar itu, menarik untuk melihat konsep yang sebenarnya ditawarkan kolektif asal Jogja ini dalam rilis pers-nya: ”Page 160 adalah sebuah entitas fiktif yang kami ciptakan untuk menggambarkan sebuah perusahaan multi-nasional yang menguasai berbagai macam industri di dunia dan secara diam-diam membuat propaganda tentang bagaimana seharusnya manusia menjalani hidup ini,” begitu tulisnya. Norma-norma usang melebur dengan gaya hidup kekinian telah jadi objek hangat yang coba mereka cairkan lewat orasi manis di lagu-lagunya. Andai saja perenungan mereka bisa lebih dalam lagi, kampanye itu pasti akan tepat sasaran. Mungkin perenungan ini bisa ditampilkan lebih kuat di rilisan selanjutnya: Page 161.

Tracklist:
01. Which Way
02. Solitude 
03. Pride
04. Sometimes
05. I'm Done
06. Contemplation
07. Rush
08. Screen
09. Bonscha



Tito Hilmawan Reditya

Mahasiswa sastra indonesia yang mengimani sepenuh hati Billie Joe Armstrong, Matt Bellamy, Kurt Cobain dan Thom Yorke. Menulis musik untuk suka-suka dan kesenangan semata. Bermimpi bisa bersulang root beer dengan Green Day.
Baca tulisan Tito lainnya
- -